Shalat dalam Kondisi Najis karena Tidak Tahu atau Lupa

  • Reading time:9 Menit
  • 102 View

Pertanyaan:

Jika seseorang shalat dalam kondisi najis karena tidak tahu atau lupa bahwa pakaian, tempat atau di badannya ada najis, apakah harus mengulang shalatnya?


بسم الله والحمد لله والصلاة والسلام على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن والاه.

Pertama: Apakah suci dari najis merupakan syarat sah shalat?

Perlu diketahui bahwa terjadi perbedaan pendapat di kalangan para ulama apakah suci dari najis merupakan syarat sah shalat atau bukan? Ringkasnya:

  • Ada pendapat yang mengatakan bahwa suci dari najis merupakan syarat sah shalat secara mutlak
  • Ada yang mengatakan bahwa suci dari najis merupakan syarat sah shalat bagi orang yang tahu atau ingat akan adanya najis serta dia mampu membersihkannya
  • Ada yang mengatakan suci dari najis bukan syarat sah shalat.

Sebagian dari ulama yang mengatakan suci dari najis bukan syarat sah shalat seperti Asy-Syaukani menyatakan bahwa orang yang shalat dalam kondisi najis shalatnya tetap sah sekalipun dia melakukannya dengan sengaja, lebih-lebih jika tidak tahu atau lupa dan melakukannya tanpa sengaja. Untuk lebih jelasnya silakan baca di sini.

Lalu bagaimana menurut pendapat mayoritas ulama yang mengatakan bahwa suci dari najis adalah syarat sah shalat, apakah orang yang shalat dalam kondisi najis karena tidak tahu atau lupa harus mengulang shalatnya?

Kedua: Hukum orang yang shalat dalam kedaan najis

Shalat dalam keadaan najis seperti ketika di badan atau pakaian atau di tempat shalat terdapat najis ada dua kondisi:

Kondisi pertama:

Jika di tengah-tengah shalat dia tahu atau ingat akan adanya najis:

  • Jika dia mengenakan pakaian dalam yang menutup aurat maka:
    • Jika melepasnya tidak membutuhkan waktu lama, dan atau membutuhkan banyak gerakan maka hendaklah dia melepasnya dan melanjutkan shalatnya seperti yang dilakukan Nabi ﷺ  ketika beliau melepas kedua sandalnya dalam shalat karena diberi tahu oleh Jibril bahwa di sandalnya ada najis.
    • Jika melepasnya membutuhkan waktu yang lama dan atau membutuhkan banyak gerakan maka shalatnya batal; karena dengan demikian dia shalat dalam kondisi najis dalam waktu yang lama sejak mengetahuinya dan atau karena banyaknya gerakan yang menyebabkan shalatnya menjadi batal.[1]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/50)
  • Jika dia tidak mengenakan pakaian dalam yang menutup aurat maka:
    • Jika tidak mengenakan pakaian dalam yang dapat menutup aurat di mana jika pakaian yang najis tersebut dilepas akan menyebabkan auratnya terlihat maka dia harus menghentikan shalatnya, melepas pakaiannya yang najis atau mencucinya lalu memulai kembali shalat dari awal dengan pakaian yang suci.
    • Jika dia melanjutkan shalat setelah mengetahui adanya najis maka setelah shalat itu selesai dia harus mengulang kembali shalatnya.[2]Situs Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz

Kondisi kedua:

Orang yang tidak tahu atau lupa akan adanya najis dan baru menyadari setelah selesai shalat, apa hukumnya? Dalam hal ini ulama berbeda pendapat.

Pendapat pertama:

Mengatakan bahwa shalatnya sah dan tidak perlu mengulang, baik karena tidak tahu atau karena lupa. Ini merupakan pendapat Ibnu Umar, Atha’, Sa’id bin Al-Musayyib, Az-Zuhri, Ishaq bin Rahuyah, Ibnu Al-Mundzir[3]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49) , pendapat Asy-Syafi’i dalam al-qaulu al-qadīm[4]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/132), Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/108) serta pendapat yang dipilih oleh imam An-Nawawi[5]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/157), Kifāyatu Al-Akhyār (92) dan pendapat imam Ahmad dalam salah satu riwayat darinya[6]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49) .

Ibnu Qudamah berkata: “Jika dia shalat kemudian melihat ada najis pada badan atau pakaiannya maka shalatnya sah; hal ini karena pada asalnya najis tersebut tidak ada ketika shalat.”[7]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)

Dalil pendapat ini adalah hadits yang diriwayatkan dari Abu Said Al-Khudri:

عن أبي سعيد الخدري، قال: بينما رسول الله ﷺ يصلي بأصحابه إذ خلع نعليه فوضعهما عن يساره، فلما رأى ذلك القوم ألقوا نعالهم، فلما قضى رسول الله ﷺ صلاته، قال: «ما حملكم على إلقاء نعالكم»، قالوا: رأيناك ألقيت نعليك فألقينا نعالنا، فقال رسول الله ﷺ: «إن جبريل صلى الله عليه وسلم أتاني فأخبرني أن فيهما قذرا – أو قال: أذى -» وقال: «إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر: فإن رأى في نعليه قذرا أو أذى فليمسحه وليصل فيهما»

Abu Sa’id Al-Khudri berkata: “Ketika Rasulullah ﷺ sedang menjadi imam shalat bagi para sahabat tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya dan meletakkannya di sebelah kirinya. Ketika orang-orang melihat hal itu mereka pun melempar sandal-sandal mereka. Setelah Rasulullah ﷺ selesai shalat beliau bertanya: ‘Apa yang membuat kalian melempar sandal-sandal kalian?’ Mereka menjawab: ‘Kami melihatmu melempar kedua sandalmu, maka kami pun melempar sandal kami.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya Jibril mendatangiku dan memberitahuku bahwa di kedua sandalku ada kotoran.’ Kemudian beliau bersabda: ‘Apabila salah seorang di antara kalian datang ke masjid maka hendaklah dia memperhatikan: Apabila melihat kotoran di kedua sandalnya maka hendaklah ia mengusapnya dan shalatlah dengan mengenakan keduanya.’”[8]Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/175) No. 650

Ibnu Qudamah berkata: “Seandainya thaharah adalah syarat sah shalat sekalipun dalam kondisi tidak tahu niscaya Rasulullah ﷺ akan mengulang kembali shalatnya dari awal.”[9]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)

Pendapat kedua:

Pendapat ini mengatakan bahwa shalatnya tidak sah dan harus mengulang, ini merupakan pendapat Imam Asy-Syafi’i dalam al-qaulu al-jadīd dan yang paling sahih dalam mazhab Syafi’iyyah[10]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/131-132), Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/109) juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad[11]Al-Inshāf, Al-Mardāwi (3/290) .

Sebab suci dari najis merupakan syarat sah shalat di mana syarat tersebut tidak lantas menjadi gugur karena ketidaktahuan kita seperti halnya thaharah dari hadats.[12]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/131), Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/109), Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)

Namun demikian ada sebagian ulama Syafi’iyyah yang mengatakan bahwa jika najisnya mungkin terjadi setelah shalat maka dia tidak harus mengulang karena pada asalnya najis tersebut tidak ada, akan tetapi dianjurkan untuk mengulang karena bisa jadi najis tersebut sudah ada ketika shalat, ada pun jika najisnya tidak mungkin terjadi setelah shalat artinya pasti ada sebelum shalat maka terjadi perbedaan sebagaimana pendapat pertama dan kedua dalam pembahasan ini[13]Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/108), Kifāyatu Al-Akhyār (92-93)  .

Pendapat ketiga:

Pendapat ini mengatakan dianjurkan  (mustahab) mengulang jika masih dalam waktu shalat, jika sudah di luar waktu shalat maka tidak perlu mengulang. Ini merupakan salah satu pendapat Imam Malik[14]Al-Muntaqā, Al-Baji (1/41) dan pendapat Rabi’ah[15]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49) .

Pendapat keempat:

Membedakan antara shalat dalam kondisi najis karena lupa dengan shalat dalam kondisi najis karena tidak tahu, jika shalat dalam kondisi najis karena tidak tahu maka shalatnya sah, sedangkan jika karena lupa maka shalatnya tidak sah dan harus mengulang sebab dia terkesan lalai karena melupakan najis tersebut. Ini merupakan salah satu riwayat dalam mazhab Hanabilah[16]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49) .

Mereka mengatakan bahwa antara lupa dan tidak tahu adalah dua hal yang berbeda; sebab lupa menunjukkan adanya kelalaian di mana sebelumnya dia mengetahui adanya najis kemudian melupakannya, dan lupanya tersebut termasuk tindakan kelalaian[17]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49) .

Lalu manakah pendapat yang kuat?

Pendapat yang kuat adalah pendapat pertama yang mengatakan bahwa orang yang shalat dalam kondisi najis dan baru menyadari setelah selesai shalat maka shalatnya sah dan tidak perlu mengulang, baik karena tidak tahu sama sekali atau karena lupa.

Imam An-Nawawi berkata:

“Jumhur ulama mengatakan tidak perlu mengulang, Ibnu Al-Mundzir mengatakan ini adalah pendapat Ibnu Umar, Ibnu Al-Musayyib, Thawus, Atha’, Salim bin Abdullah, Mujahid, Asy-Sya’bi, An-Nakha’i, Az-Zuhri, Yahya Al-Anshari, Al-Auza’i, Ishaq, dan Abu Tsaur. Ibnu Al-Mundzir berkata: ‘Dan ini adalah pendapatku.’ Ini juga merupakan pendapat Rabi’ah dan Malik, pendapat ini memiliki dalil yang kuat dan pendapat inilah yang saya pilih.”[18]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/157)

Ibnu Taimiah berkata: “Jika dia shalat sedangkan di badan atau pakaiannya terdapat najis dan dia tidak mengetahui hal tersebut sampai selesai shalat maka dia tidak wajib mengulang menurut pendapat yang paling sahih dari dua pendapat yang ada, ini adalah mazhab Malik dan yang lainnya, juga mazhab Ahmad dalam riwayat yang paling kuat, serta sama saja apakah dia tahu akan adanya najis kemudian dia lupa atau dia tidak tahu sama sekali; hal ini berdasarkan apa yang telah kita sebutkan sebelumnya bahwa Nabi ﷺ shalat dengan mengenakan kedua sandalnya kemudian beliau melepasnya ketika shalat di saat Jibril memberitahunya bahwa pada sandalnya terdapat kotoran serta beliau tetap melanjutkan shalatnya dan tidak mengulangi dari awal padahal najis tersebut telah berada di sana sejak shalat dimulai tetapi beliau tidak mengetahuinya.”[19]Majmū’ Al-Fatāwā (22/185)

Ibnu Qudamah berkata:

“Yang benar bahwa hukumnya sama (baik karena tidak tahu atau karena lupa); sebab sesuatu yang dimaafkan karena tidak tahu maka dimaafkan juga jika lupa, bahkan lupa lebih dimaafkan dari pada tidak tahu karena adanya nash yang menunjukkan bahwa orang yang lupa dimaafkan yaitu sabda nabi ﷺ ‘Dimaafkan dari umatku jika dia salah atau lupa.’”[20]Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/50)

Ibnul Qayyim berkata: “Jika dia shalat mengenakan pakaian sedangkan dia tidak mengetahui bahwa pakaian tersebut najis kemudian dia mengetahuinya setelah selesai shalat maka dia tidak perlu mengulang shalatnya.”[21]Badāi’ Al-Fawā’id (3/258)

Kesimpulan:

  • Ulama berbeda pendapat apakah suci dari najis merupakan syarat sah shalat, perbedaan pendapat ulama dalam hal ini sudah dibahas di sini.
  • Menurut pendapat yang mengatakan suci dari najis bukan syarat sah shalat seperti pendapat Asy-Syaukani, maka orang yang shalat dalam kondisi najis shalatnya tetap sah sekalipun disengaja, lebih-lebih jika tidak disengaja baik karena tidak tahu atau karena lupa.
  • Shalat dalam kondisi najis karena lupa atau tidak tahu ada dua kondisi:
    • Kondisi pertama: Ingat atau tahu di tengah-tengah shalat, jika menggunakan pakaian dalam yang menutup aurat serta mungkin melepas pakaian yang najis tanpa membutuhkan waktu lama dan banyak gerakan maka hendaknya melepas dan melanjutkan shalatnya, jika tidak maka harus berhenti dan mengulang. Jika tidak mengenakan pakaian lain yang bisa menutup aurat ketika pakaian yang najis dilepas, maka harus menghentikan shalatnya dan mengulang dari awal. Jika dia tahu namun tetap meneruskan shalat dalam kondisi najis maka dia harus mengulang shalatnya.
    • Kondisi kedua: Ingat atau tahu setelah shalat selesai maka ulama berbeda pendapat seperti dalam poin di bawah ini.
  • Ulama yang mengatakan suci dari najis merupakan syarat sah shalat berbeda pendapat tentang orang yang shalat dalam kondisi najis karena tidak tahu atau lupa dan baru tahu atau ingat setelah selesai shalat:
    • Pendapat pertama: Shalatnya sah dan tidak perlu mengulang
    • Pendapat kedua: Shalatnya tidak sah dan harus mengulang
    • Pendapat ketiga: Dianjurkan mengulang jika masih dalam waktu shalat
    • Pendapat keempat: Membedakan atara lupa dengan tidak tahu, jika karena lupa maka wajib mengulang dan jika karena tidak tahu maka tidak wajib mengulang.
  • Pendapat yang kuat bahwa orang yang shalat dalam kondisi najis dan baru ingat atau tahu setelah selesai shalat maka shalatnya sah dan tidak perlu mengulang, baik karena lupa atau karena tidak tahu.
  • Masalah ini memiliki hukum yang berbeda dengan masalah orang yang shalat dalam kondisi berhadats karena lupa atau tidak tahu, tentang masalah ini sudah dibahas di sini dan di sini.

والله تعالى أعلى وأعلم.

Referensi

Referensi
1Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/50)
2Situs Fatwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz
3Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
4Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/132), Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/108)
5Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/157), Kifāyatu Al-Akhyār (92)
6Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
7Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
8Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/175) No. 650
9Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
10Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/131-132), Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/109)
11Al-Inshāf, Al-Mardāwi (3/290)
12Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/131), Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/109), Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
13Al-Bayān fī Madzhabi Al-Imām Asy-Syāfi’ī (2/108), Kifāyatu Al-Akhyār (92-93)  
14Al-Muntaqā, Al-Baji (1/41)
15Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
16Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
17Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/49)
18Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (3/157)
19Majmū’ Al-Fatāwā (22/185)
20Al-Mughnī, Ibnu Qudamah (2/50)
21Badāi’ Al-Fawā’id (3/258)

Mohammad Ridwanullah

Founder www.zaad.my.id | Author | Web Developer | Alumni Darul Ihsan Sana Daja & Ma'had Al-Ittihad Al-Islami Camplong. Melanjutkan pendidikan S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Syariah jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh di LIPIA Jakarta.

Postingan Ini Memiliki Satu Komentar

Tinggalkan Balasan