Apakah Dry Cleaning Bisa Menyucikan Najis?

  • Reading time:9 Menit
  • 79 View

Pertanyaan:

Apakah dry cleaning bisa menyucikan najis? Sebab ada pakaian yang terbuat dari bahan tertentu yang menjadikan pakaian tersebut tidak boleh dicuci dengan air karena dapat merusaknya sehingga harus dicuci dengan dry cleaning.


Apa Itu Dry Cleaning?

Dry cleaning merupakan salah satu cara membersihkan kotoran tanpa air yang populer pada era modern. Dry cleaning menjadi solusi bagi pakaian yang terbuat dari bahan yang akan rusak apabila terkena air. Demikian juga menjadi solusi untuk mencuci pakaian saat musim dingin tiba di sebagian negara.

Dry cleaning masuk ke dalam kategori fiqh kontemporer, permasalahan fiqh baru yang belum pernah terjadi sebelumnya disebut nazilah yang biasanya dibahas oleh para ulama dalam kitab-kitab fiqh nawāzil.

Mesin dry cleaning adalah teknologi baru di mana kita tidak bisa menemukan pembahasan seputar dry cleaning secara langsung di kitab-kitab fiqh klasik. Sekalipun dry cleaning adalah permasalahan kontemporer yang tidak pernah dibahas oleh ulama terdahulu secara langsung namun sebenarnya pokok permasalahannya sudah dibahas oleh mereka.

Apakah Dry Cleaning Bisa Menyucikan Najis?

Sebagaimana telah disebutkan bahwa dry cleaning seperti yang dikenal sekarang merupakan teknologi baru yang belum pernah dibahas oleh ulama terdahulu secara langsung, namun sebenarnya inti dan pokok permasalahannya telah dibahas panjang lebar dalam kitab-kitab fiqh klasik. Pokok permasalahan dry cleaning kembali ke perbedaan pendapat ulama tentang hal-hal yang dapat menyucikan najis, apakah najis hanya bisa disucikan dengan air atau bisa dengan apa pun yang dapat menghilangkan najis? Dengan mengetahui pendapat ulama dalam permasalahan tersebut maka kita pun dapat mengetahui apakah dry cleaning bisa menyucikan najis atau tidak. Mari kita simak perbedaan pendapat ulama seputar apa saja yang bisa digunakan untuk membersihkan najis.

Pendapat pertama:

Menghilangkan najis tidak harus dengan air, ini adalah pendapat Imam Abu Hanifah, Abu Yusuf[1]Badāi’ Ash-Shanāi’ (1/83) , salah satu riwayat dalam mazhab Hanabilah[2]Al-Inshāf, Al-Mardawi (2/275-276) dan pendapat yang dipilih oleh Ibnu Taimiyah[3]Majmū’ Al-Fatāwā (21/475) .

Al-Kasani berkata: “Cairan-cairan (selain air) itu bekerja seperti air dalam membersihkan, sebab air bisa membersihkan karena air itu encer sehingga bisa menembus sela-sela pakaian, menyatukan bagian-bagian yang najis lalu mengencerkannya jika najis-najis itu kental setelah itu air mengeluarkan kembali najis itu saat diperas, dan cairan-cairan ini memiliki sifat seperti air dalam membersihkan najis bahkan bisa lebih dari air, cairan-cairan ini mampu meresap, menyatukan, serta encer. Bahkan cuka bisa menghilangkan warna yang tidak bisa dihilangkan oleh air sehingga dilihat dari sisi ini cuka lebih ampuh dalam membersihkan…….. Demikian juga menggosok dan mengerik setelah kering untuk beberapa jenis najis di tempat-tempa tertentu……. Namun jika basah maka tidak bisa dibersihkan kecuali dicuci.”[4]Badāi’ Ash-Shanāi’ (1/82-84)

Ibnu Najim berkata: “(Dia berkata: ‘[Menghilangkan najis] dengan cairan yang bisa menghilangkan seperti cuka dan air mawar’) dikiaskan kepada menghilangkan najis dengan air hal ini karena adanya illah dalam membersihkan najis dengan air, illah itu adalah kemampuan air dalam menghilangkan najis, sedangkan benda cair yang lain juga bisa menghilangkan najis. Dengan demikian cairan-cairan itu bisa memenuhi maksud dan tujuan (menghilangkan najis) dan bisa menghasilkan thaharah.”[5]Al-Bahru Ar-Rā’iq Syarh Kanzi Ad-Daqā’iq (1/233)

Dalil pendapat ini:

Dalil pertama: Hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah radliyallahu ‘anhā di mana dia berkata:

«مَا كَانَ لِإِحْدَانَا إِلَّا ثَوْبٌ وَاحِدٌ تَحِيضُ فِيهِ، فَإِذَا أَصَابَهُ شَيْءٌ مِنْ دَمٍ قَالَتْ بِرِيقِهَا، فَقَصَعَتْهُ بِظُفْرِهَا»

“Tidak seorang pun dari kami kecuali hanya memiliki satu pakaian di mana pakaian tersebut juga dipakai saat haid, jika baju tersebut terkena sedikit darah haid dia membasahi dengan ludahnya lalu mengeriknya dengan kukunya.”[6]Diriwayakan oleh Al-Bukhari (1/69) No. 312

Dalil kedua: Seorang wanita ummul walad milik Ibrahim bin Abdurrahman bin Auf bertanya kepada Ummu Salamah:

‌إني ‌امرأة ‌أطيل ذيلي وأمشي في المكان القذر؟ فقالت: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: «يطهره ما بعده»

“Aku wanita yang mana pakaianku menjuntai panjang dan aku berjalan di tempat kotor.” Lalu Ummu Salamah berkata: “Rasulullah ﷺ bersabda: ‘Akan disucikan oleh tanah setelahnya.’”[7]Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/104) No. 383 dan At-Tirmidzi (1/266) No. 143

Dalam hadits tersebut Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa pakaian yang terkena najis karena berjalan di tempat kotor akan menjadi suci ketika terkena tanah yang suci setelahnya. Ini menunjukkan bahwa selain air juga mampu menghilangkan najis, maka hal ini menunjukkan bahwa untuk membersihkan najis tidak disyaratkan harus menggunakan air.[8]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/95)

Kemudian sabda Nabi ﷺ:

«إذا جاء أحدكم إلى المسجد فلينظر: فإن رأى في نعليه قذرا أو أذى فليمسحه وليصل فيهما»

“Jika salah seorang di antara kalian datang ke masjid maka lihatlah: Jika dia melihat di sandalnya ada kotoran maka hendaklah dia mengusapnya lalu shalatlah dengan mengenakan keduanya.”[9]Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/175) No. 650

Dalam riwayat yang lain beliau bersabda:

«إذا وطئ أحدكم بنعله الأذى، فإن التراب له طهور»

“Jika salah seorang di antara kalian menginjak kotoran dengan sandalnya, maka tanah yang akan menyucikannya.”[10]Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/105) No. 385

Dalam riwayat yang lain seorang wanita dari Bani Abdul Asyhal bertanya kepada Rasulullah ﷺ:

يا رسول الله، إن لنا طريقا إلى المسجد منتنة فكيف نفعل إذا مطرنا؟ قال: «أليس بعدها طريق هي أطيب منها؟» قالت: قلت: بلى. قال: «فهذه بهذه»

“Wahai Rasulullah ﷺ, ketika akan pergi ke masjid kami melewati jalan yang berbau menyengat, lalu apa yang harus kami lakukan jika hujan turun?” Rasulullah ﷺ bertanya: “Bukannya setelah jalan itu ada jalan lain yang lebih bagus darinya?” Dia berkata: “Aku menjawab: ‘iya.’” Rasulullah ﷺ bersabda: “Maka yang ini dibersihkan oleh yang ini.”[11]Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/104) No. 384

Hadits-hadits di atas menunjukkan bahwa tanah dapat membersihkan najis yang melekat pada sandal atau pakaian dan tidak harus menggunakan air.

Dalil ketiga: Rasulullah ﷺ bersabda:

«‌إذا ‌استجمر ‌أحدكم ‌فليوتر»

“Jika salah seorang di antara kalian beristijmar maka hendaklah dia ganjilkan.”[12]Diriwayatkan oleh Muslim (1/213) 239

Istijmar adalah cara membersihkan najis setelah buang air besar atau kecil menggunakan batu, maka itu juga menunjukkan bahwa untuk membersihkan najis tidak disyaratkan harus menggunakan air.

Pendapat kedua:

Hanya air yang dapat membersihkan najis, selain air tidak dapat membersihkan. Ini adalah pendapat Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani dan Zufar dari mazhab Hanafiyah.[13]Badāi’ Ash-Shanāi’ (1/83) , dan pendapat yang rajih dalam mazhab Malikiyah[14]Mawāhibu Al-Jalīl fī Syarh Mukhtashar Khalīl (1/165) , ini juga merupakan pendapat Syafi’iyyah[15]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/92), Asnā Al-Mathālib fī Syarh Raudli Ath-Thālib (1/5) dan Hanabilah dalam riwayat yang lain[16]Kasysyāf Al-Qinā’ (1/181) .

Dalil Pendapat Ini:

Dalil pertama: Firman Allah ﷻ

﴿وَأَنْزَلْنَا مِنَ السَّمَاءِ مَاءً طَهُورًا﴾

“Dan Kami turunkan dari langit air untuk menyucikan.”[17]QS. Al-Furqān: 48

Serta firman Allah ﷻ:

﴿وَيُنَزِّلُ عَلَيْكُمْ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً لِيُطَهِّرَكُمْ بِهِ﴾

“Dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk mensucikanmu dengannya.[18]QS. Al-Anfāl: 11

Ayat tersebut menyebutkan bahwa Allah ﷻ menurunkan air dari langit sebagai anugerah agar bisa digunakan untuk bersuci, jika bersuci bisa dengan selain air maka nilai anugerahnya pun hilang.[19]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/96), Asnā Al-Mathālib fī Syarh Raudli Ath-Thālib (1/5)

Dalil kedua: Hadits Asma’ radliyallahu ‘anha dia berkata:

جاءت امرأة النبي ﷺ فقالت: أرأيت إحدانا تحيض في الثوب، كيف تصنع؟ قال: «تحته، ثم ‌تقرصه ‌بالماء، وتنضحه، وتصلي فيه»

Seorang wanita datang menemui Nabi ﷺ seraya bertanya: “Bagaimana pendapatmu jika salah seorang dari kami darah haidnya mengenai pakaian, apa yang harus dia lakukan?” Rasulullah ﷺ bersabda: “Hendaklah dia mengeriknya, membilasnya dengan air dan menyiramnya, kemudian gunakanlah pakaian itu untuk shalat.”[20]Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/55) No. 227

Dalam hadits tersebut Rasulullah ﷺ memerintahkan untuk membersihkan najis dengan air, maka barang siapa mencuci najis dengan cairan lain selain air berarti telah meninggalkan yang diperintahkan oleh Rasulullah ﷺ. [21]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/92)

Imam An-Nawawi berkata: “Tidak ada riwayat dari Nabi ﷺ bahwa beliau membersihkan najis dengan selain air, justru yang ada adalah riwayat untuk membersihkan najis dengan air, serta tidak ada riwayat yang secara jelas menyampaikan bahwa membersihkan najis bisa dengan selain air hal ini menunjukkan bahwa yang dapat menyucikan najis hanya air sebab seandainya selain air bisa menyucikan najis niscaya beliau akan menjelaskannya agar kita mengetahui bahwa hal itu boleh sebagaimana yang beliau lakukan terhadap hal-hal lainnya. Juga karena menyucikan najis merupakan thaharah syar’iyyah maka tidak boleh menggunakan cuka seperti halnya tidak boleh menggunakan cuka untuk berwudlu.” [22]Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/96)

Manakah Pendapat yang Rajih?

Ibnu Taimiah berkata: “Rasulullah ﷺ telah mengizinkan untuk menghilangkan najis dengan selain air dalam beberapa riwayat: Di antaranya adalah istijmar dengan batu, kemudian sabdanya tentang sandal: ‘Hendaklah engkau menggosok kedua sandalmu dengan tanah; karena sesungguhnya tanah bisa menyucikan keduanya.’ Di antaranya juga sabdanya tentang pakaian yang menjuntai: ‘Pakaian itu akan disucikan oleh tanah setelahnya.’ Di antaranya juga bahwa dulu anjing-anjing itu mondar-mandir dan kencing di masjid Rasulullah ﷺ akan tetapi para sahabat tidak mencucinya.”

Kemudian beliau berkata: “Jika demikian maka pendapat yang rajih dalam masalah ini adalah bahwasanya najis ketika sudah hilang dengan cara apa pun maka hilang pula hukum najisnya; sebab jika sebuah hukum ditetapkan karena adanya illah maka hukum tersebut menjadi hilang seiring hilangnya illah.”[23]Majmū’ Al-Fatāwā (21/475)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin berkata: “Menghilangkan najis dengan cara menyingkirkan sesuatu yang kotor dan  najis, sehingga sesuatu apa pun yang dapat menghilangkan najis serta bekasnya maka sesuatu tersebut bisa menyucikannya, baik itu menggunakan air atau bensin atau bahan lainnya yang dapat menghilangkan, dengan demikian ketika sesuatu yang najis dapat dihilangkan dengan sesuatu apa pun maka sesuatu tersebut dapat menyucikannya, bahkan menurut pendapat yang kuat yang dipilih oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah bahwa jika najis itu bisa hilang dengan cahaya matahari dan angin maka cahaya matahari atau angin tersebut dapat menyucikan tempat di mana najis tersebut berada. Karena seperti yang saya katakan bahwa itu adalah obyek kotor dan najis, ketika obyek najis itu ada maka tempatnya menjadi najis karenanya dan ketika obyek najis itu hilang maka tempat obyek najis tadi kembali ke hukum asalnya yaitu suci. Maka apa pun yang dapat menghilangkan obyek najis dan bekasnya -kecuali warna yang membandel yang susah dihilangkan maka itu dimaafkan dan ditoleransi- maka ia bisa membersihkan najis tersebut. Dengan demikian kami katakan bahwa: Uap yang digunakan untuk mencuci bejana jika dapat menghilangkan najis maka ia dapat menjadikannya suci.”[24]Majmū’ Fatāwā wa Rasā’il Al-Utsaimīn (11/87)


Kesimpulan:

  • Dry cleaning adalah cara mencuci dan membersihkan pakaian tanpa air.
  • Dry cleaning adalah masalah fiqh kontemporer, namun pokok permasalahannya telah dibahas oleh ulama dalam kitab-kitab klasik.
  • Hukum dry cleaning kembali ke pendapat ulama tentang apa saja yang dapat membersihkan najis, apakah harus menggunakan air atau bisa dengan selain air?
    • Pendapat pertama: Apa pun yang dapat menghilangkan najis maka boleh dijadikan pembersih najis dan tidak harus menggunakan air.
    • Pendapat kedua: Yang dapat membersihkan najis hanya air, selain air tidak bisa menyucikan najis.
  • Pendapat yang kuat bahwa boleh menyucikan najis dengan apa pun yang dapat menghilangkan najis dan bekasnya, kecuali jika bekasnya membandel dan susah dibersihkan maka itu ditoleransi dan dimaafkan.
  • Maka: Mencuci pakaian dengan dry cleaning dapat menyucikan najis pada pakaian jika pada prosesnya dry cleaning dapat menghilangkan obyek najis dan bekasnya.

والله تعالى أعلى وأعلم

Referensi

Referensi
1Badāi’ Ash-Shanāi’ (1/83)
2Al-Inshāf, Al-Mardawi (2/275-276)
3Majmū’ Al-Fatāwā (21/475)
4Badāi’ Ash-Shanāi’ (1/82-84)
5Al-Bahru Ar-Rā’iq Syarh Kanzi Ad-Daqā’iq (1/233)
6Diriwayakan oleh Al-Bukhari (1/69) No. 312
7Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/104) No. 383 dan At-Tirmidzi (1/266) No. 143
8Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/95)
9Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/175) No. 650
10Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/105) No. 385
11Diriwayatkan oleh Abu Daud (1/104) No. 384
12Diriwayatkan oleh Muslim (1/213) 239
13Badāi’ Ash-Shanāi’ (1/83)
14Mawāhibu Al-Jalīl fī Syarh Mukhtashar Khalīl (1/165)
15Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/92), Asnā Al-Mathālib fī Syarh Raudli Ath-Thālib (1/5)
16Kasysyāf Al-Qinā’ (1/181)
17QS. Al-Furqān: 48
18QS. Al-Anfāl: 11
19Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/96), Asnā Al-Mathālib fī Syarh Raudli Ath-Thālib (1/5)
20Diriwayatkan oleh Al-Bukhari (1/55) No. 227
21Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/92)
22Al-Majmū’ Syarh Al-Muhażżab (1/96)
23Majmū’ Al-Fatāwā (21/475)
24Majmū’ Fatāwā wa Rasā’il Al-Utsaimīn (11/87)

Mohammad Ridwanullah

Founder www.zaad.my.id | Author | Web Developer | Alumni Darul Ihsan Sana Daja & Ma'had Al-Ittihad Al-Islami Camplong. Melanjutkan pendidikan S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Syariah jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh di LIPIA Jakarta.

Tinggalkan Balasan