Biografi Singkat Imam Ahmad

  • Reading time:11 Menit
  • 46 View

Biografi Singkat Imam Ahmad, imam ahli hadits nan faqih, guru dari para pakar hadits seperti imam Al-Bukhari, Muslim, Abu Daud dan yang lainnya.

Nama dan Nasabnya

Abu Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Asy-Syaibani Al-Marwazi Al-Bashri Al-Baghadadi Al-Hanbali.

Kelahiran dan Tumbuh Kembangnya

Imam Ahmad dilahirkan di Baghdad pada bulan Rabi’ul Awwal tahun (164 H), ibunya datang dari Marw ke Baghdad saat dia sedang hamil, ayah imam Ahmad merupakan tentara di sana, kemudian pindah ke Baghdad dan imam Ahmad dilahirkan di sana, akan tetapi ayahnya wafat 3 tahun setelah kelahiran imam Ahmad dalam usia 30 tahun. Imam Ahmad tumbuh dalam kondisi yatim dan dibesarkan oleh ibunya, di mana ibunya sendiri yang mendidiknya dengan pendidikan penuh ilmu sebelum akhirnya diserahkan ke gurunya yang mengajarkannya kitab-kitab, imam Ahmad belajar darinya sampai terlihat bahwa dia jauh lebih menonjol dibanding teman-temannya. Kadang-kadang gurunya tidak mengambil upah sebagai timbal balik atas apa yang dilakukan oleh imam Ahmad kecil yang telah membantunya mengajar kawan-kawannya yang pemahamannya lemah. Masa muda imam Ahmad sangat mencintai ilmu, sangat wara’ dan sangat menjaga lisannya.

Proses Belajar Imam Ahmad

Sejak masa kecil imam Ahmad sudah begitu cinta terhadap ilmu serta begitu antusias dalam mempelajarinya, meramaikan majelis ilmu ulama Baghdad bersama para penuntut ilmu saat beliau masih berusia 16 tahun. Imam Ahmad berkelana untuk menuntut ilmu, beliau pergi ke Kufah, Bashrah, Makkah, Yaman, Syam serta Jazirah, menulis dari setiap ulama di seluruh penjuru setiap negeri, sampai-sampai itu semua menyibukkannya dari bekerja dan menikah, beliau tidak menikah sampai usia 40 an tahun, saat itu beliau sudah menimba ilmu dan mendapatkannya seperti yang beliau inginkan.

Fokus beliau saat pertama kali menuntut ilmu adalah mencari hadits, beliau belajar ke Abu Muawiyah Husyaim bin Basyir, beliau mendengar hadits darinya, Abu Muawiyah adalah guru imam Ahmad di mana beliau paling lama bermulazamah dengannya (dari tahun 179 H sampai 183 H), menulis hadits dari Al-Qadli Abu Yusuf, murid serta sahabat Abu Hanifah, bermulazamah dengan  Abdurrahman bin Mahdi serta menulis hadits darinya, selain itu imam Ahmad juga mengambil hadits dari Abu Bakar bin Ayyasy dan ulama-ulama lainnya.

Guru Imam Ahmad yang Paling Terkenal

Imam Ahmad belajar dari banyak sekali ulama dan para imam baik itu di bidang hadits atau fiqh dan bidang keilmuan yang lain, tetapi beliau lebih fokus ke hadits karena beliau melihat itu sebagai sebuah pengagungan terhadap sunah Nabi ﷺ, jumlah guru beliau sekitar 414 guru baik itu yang merupakan pakar hadits, fiqh dan qira’ah, imam Ahmad juga meriwayatkan hadits dari seorang wanita.[1]Ma’alim Madzhab Al-Hanbali (333-372)

Di antara guru-guru imam Ahmad yang paling masyhur adalah:

  • Al-Qadli Abu Yusuf (182 H)
  • Husyaim bin Basyir (183 H)
  • Ismail bin Ulayyah (193 H)
  • Waki’ bin Al-Jarrah (197 H)
  • Sufyan bin Uyainah (198 H)
  • Abu Daud Ath-Thayalisi (204 H)
  • Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i (204 H)
  • Abdurrazzaq bin Humam Ash-Shan’ani (211 H)
  • Nu’aim bin Hammad (228 H)
  • Yahya bin Ma’in (233 H)
  • Ishaq bin Ibrahim bin Rahuyah (238 H)[2]Tahdzibul Kamal (1/437 dan seterusnya)

Murid-murid Imam Ahmad yang Paling Terkenal

Ketenaran imam Ahmad akan ilmunya sampai ke penjuru dunia sehingga banyak penuntut ilmu yang datang kepadanya dari segala penjuru, mereka belajar, mendengarkan hadits, serta menjadi faqih dari beliau, banyaknya jumlah murid beliau ketika dihitung berjumlah sekitar 577 orang, belum lagi orang-orang yang belajar ke beliau namun tidak disebutkan namanya dalam sejarah, bahkan ada sebagian gurunya yang belajar darinya, ikut serta dalam majelisnya, mendengarkan ilmu dan hadits yang disampaikan oleh beliau.

Sebagian orang yang menulis biografi imam Ahmad menyebut bahwa jumlah orang yang datang ke majelisnya lebih dari 5.000 orang, di antara mereka ada yang menulis, ada yang mendengarkan, ada yang belajar adab dan yang lainnya.

Di antara murid beliau yang paling masyhur adalah:

  • Waki’ bin Al-Jarrah (197 H)
  • Abdurrahman bin Mahdi (198 H)
  • Yahya bin Said bin Al-Qatthan (198 H)
  • Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam (224 H)
  • Yahya bin Ma’in (233 H)
  • Ishaq bin Ibrahim bin Rahuyah (238 H)
  • Muhammad bin Ismail Al-Bukhari (256 H)
  • Abu Bakar Al-Atsram (261 H)
  • Muslim bin Al-Hajjaj An-Naisaburi (261 H)
  • Abu Zar’ah Ar-Razi (264 H)
  • Shalih bin Ahmad bin Hanbal (266 H)
  • Hanbal bin Ishaq bin Hanbal (273 H)
  • Abdul Malik bin Abdul Hamid Al-Maymuni (274 H)
  • Ishaq bin Ibrahim bin Hani’ An-Naisaburi (275 H)
  • Abu Daud As-Sajistani (275 H)
  • Harb bin Ismail Al-Karmani (280 H)
  • Abdullah bin Ahmad bin Hanbal (290 H)
  • Ibnu Yahya Asy-Syami.[3]Manaqib Al-Imam Ahmad (107), Tahdzibul Kamal (1/440)

Ilmu dan Kefaqihannya

Imam Ahmad adalah seorang imam pakar hadits sampai-sampai beliau lebih dikenal di bidang hadits ketimbang bidang keilmuan yang lain, tetapi kenyataan menunjukkan bahwa beliau menguasai riwayat serta dirayah, maka selain beliau adalah imam pakar hadits beliau juga seorang imam faqih, tidak berbicara tentang fiqh kecuali berdasarkan ilmu yang telah beliau kuasai.

Jika kita perhatikan maka kita akan melihat bahwa awal mula imam Ahmad menuntut ilmu beliau menjadi murid Abu Yusuf yang merupakan murid dan sahabat Abu Hanifah, selain itu beliau juga berguru ke imam Asy-Syafi’i, hal ini menunjukkan bahwa beliau tahu banyak tentang fiqh dan menunjukkan luasnya ilmu pengetahuannya, pantas jika Abu Al-Qasim Al-Jabbuli berkata: “….Jika imam Ahmad ditanya tentang satu permasalahan maka seakan-akan semua ilmu di dunia ini ada di hadapannya.”[4]Manaqib Al-Imam Ahmad (77)

Ibrahim Al-Harbi berkata: “Aku melihat Ahmad bin Hanbal, dan aku pun melihat seakan-akan Allah telah mengumpulkan segala ilmu dari pertama sampai terakhir padanya, dari berbagai macam bidang ilmu, dia berucap apa pun yang dia inginkan, juga menahan (tidak berucap) apa pun yang dia inginkan.”[5]Tadzkirah Al-Huffazh (2/16)

Ahmad bin Sa’id Ad-Darimi berkata: “Aku tidak pernah melihat orang yang berambut hitam (belum beruban) yang lebih banyak menghafalkan hadits Rasulullah ﷺ, juga yang lebih paham tentang fiqh dan rincian-rinciannya dari Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal.”[6]Manaqib Al-Imam Ahmad (78)

Saking luasnya fiqh dan ilmu imam Ahmad ketika beliau ditanya tentang madzhab-madzhab para imam dan fuqaha’ beliau menjelaskannya seakan beliau orang yang sudah sarat pengalaman di madzhab-madzhab tersebut, yang telah mengetahui detail-detailnya. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “….Hanbal dan Ahmad bin Al-Faraj bertanya kepada imam Ahmad tentang permasalahan-permasalahan imam Malik dan penduduk Madinah, demikian juga Ishaq bin Manshur dan yang lainnya bertanya kepadanya tentang permasalahan-permasalahan Sufyan Ats-Tsaury dan yang lainnya, demikian juga Al-Maymuni bertanya kepadanya tentang permasalahan-permasalahan Al-Auza’i, demikian juga Ismail bin Said bertanya kepadanya perihal permasalahan-permasalahan Abu Hanifah dan murid-muridnya.”[7]Majmu’ Al-Fatawa (34/114)

Kesaksian Ulama Akan Kefaqihan Imam Ahmad

Banyak sekali ulama yang bersaksi akan kefaqihan imam Ahmad, mereka menyebutnya dengan imam dan faqih, di antara ulama-ulama tersebut adalah:

  • Abdurrazzaq Ash-Shan’ani
  • Abu Ubaid Al-Qasim bin Sallam
  • Abu Tsaur
  • Imam Asy-Syafi’i
  • Ali bin Al-Madini
  • Ibnu Warah
  • An-Nasa’i
  • Shalih bin Muhammad Jazrah
  • Al-Busyanji
  • Abu Zar’ah Ar-Razi
  • Ishaq bin Rahuyah
  • Abu Hatim Ar-Razi
  • Yahya bin Ma’in

Guru-guru Imam Ahmad di Bidang Fiqh yang Paling Masyhur

Di antara guru imam Ahmad di bidang Fiqh yang paling terkenal adalah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i yang merupakan imam madzhab Syafi’i, imam Ahmad mendapatkan 40 tahun dari usia imam Asy-Syafi’i, beliau belajar darinya, mengambil faedah dari fiqh dan ilmunya yang lain, hal itu terjadi ketika imam Asy-Syafi’i datang ke Baghdad di mana beliau datang ke sana sebanyak dua kali, imam Ahmad duduk belajar padanya dan menimba ilmu darinya, selain itu imam Ahmad juga menimba ilmu dari imam Asy-Syafi’i ketika beliau pergi ke Makkah. Hal itu berperan penting dalam membentuk kemampuan fiqh dalam diri imam Ahmad hingga akhirnya imam Asy-Syafi’i bersaksi bahwa imam Ahmad layak menjadi seorang imam di mana Asy-Syafi’i berkata: “Ahmad adalah imam dalam 8 hal, imam di bidang hadits, imam di bidang fiqh, imam di bidang bahasa, imam di bidang Al-Qur’an, imam dalam hal kefakiran, imam dalam hal zuhud, imam dalam hal wara’, dan imam di bidang sunah.”[8]Thabaqat Al-Hanabilah (1/3) .

Kemudian gurunya yang lain adalah Ishaq bin Rahuyah, dia memiliki hubungan erat dengan imam Ahmad lebih-lebih mereka menuntut ilmu bersama-sama, muraja’ah bersama-sama.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: “Imam Ahmad memiliki kesamaan dengan Asy-Syafi’i dan Ishaq lebih dari kesamaannya dengan guru-gurunya yang lain, dasar-dasar (ushul) imam Ahmad lebih mirip dengan dasar-dasar Asy-Syafi’i dan Ishaq ketimbang kemiripannya dengan dasar-dasar gurunya yang lain, imam Ahmad memuji serta mengagungkan mereka berdua, merajihkan ushul madzhab mereka berdua atas ushul madzhab-madzhab selain mereka berdua. Madzhabnya adalah: Bahwa ushul fuqaha’ ahli hadits lebih shahih dibanding yang lain, sedangkan Asy-Syafi’i dan Ishaq merupakan fuqaha’ ahli hadits yang paling agung pada masanya dalam pandangan imam Ahmad…..”[9]Majmu’ Al-Fatawa (34/113)

Namun sekalipun imam Asy-Syafi’i dan Ishaq memberikan dampak besar bagi imam Ahmad akan tetapi imam Ahmad memiliki madzhab independen, memiliki ushul-ushul independen seperti ushul yang digunakan fuqaha ahli hadits, proses yang ditempuh oleh imam Ahmad ketika hendak mengambil sikap hukum adalah: Melihat di Al-Qur’an, kemudian di hadits, kemudian melihat perkataan-perkataan dan atsar sahabat, ada pun qiyas dalam madzhabnya mengikuti ushul-ushul yang telah disebutkan tadi, manhaj imam Ahmad yang seperti ini tampak dari fatwa-fatwanya di mana beliau menjawab pertanyaan-pertanyaan dengan bersandar pada nash dan atsar.

Adapun yang menunjukkan bahwa imam Ahmad memiliki madzhab fiqh independen adalah banyaknya pendapat beliau yang berbeda dengan pendapat guru-gurunya.[10]Al-Madkhal Al-Mufasshal ila Madzhabi Al-Imam Ahmad ibn Hanbal (1/371-373)

Karya-karya Imam Ahmad

Imam Ahmad dikenal sangat tidak suka menulis kitab dan menyusun perkataan-perkataannya, beliau hanya ingin fokus menulis di bidang hadits nabi ﷺ secara murni tanpa tercampur dengan ucapan-ucapannya. Ibnu Al-Qayyim berkata: “Allah mengetahui baiknya niat imam Ahmad sehingga ucapan-ucapan dan fatwa-fatwanya dicatat dan disusun lebih dari 30 kitab besar, Allah juga mengaruniai kita sebagian besar dari perkataan-perkataan dan fatwa-fatwanya tersebut tidak ada yang terlewatkan kecuali sangat sedikit. Al-Khallal mengumpulkan perkataan-perkataan imam Ahmad dalam Al-Jami’ Al-Kabir yang ternyata mencapai sekitar 20 kitab besar atau bahkan lebih. Fatwa-fatwa dan permasalahan-permasalahan imam Ahmad diriwayatkan dari abad ke abad hingga jadilah beliau imam dan contoh bagi ahlussunnah dari masa ke masa, sampai-sampai orang yang memiliki pendapat berbeda dari madzhabnya baik perbedaan pendapat itu didapat dari ijtihadnya sendiri atau dari mengikuti yang lain mereka tetap menghormati perkataan-perkataan dan fatwa-fatwa imam Ahmad, mereka semua mengakui kedudukannya dan kemiripannya dengan perkataan-perkataan dan fatwa-fatwa para sahabat.”[11]A’lamu Al-Muwaqqi’in ‘an Rabbi Al-Alamin (1/23)

Karya-karya imam Ahmad yang menunjukkan luasnya ilmunya, menunjukkan banyaknya riwayat-riwayat dan sanad-sanadnya serta kedalaman pemahamannya mencapai berkisar 30 karya, di antara karya-karya tersebut yang paling masyhur adalah:

  • Al-Musnad, kitabnya yang paling besar dan paling agung, berisi hadits-hadits nabi ﷺ lengkap dengan sanad-sanadnya.
  • Fadla’ilu Ash-Shahabah
  • Al-‘Ilal wa Ma’rifatu Ar-Rijal
  • Al-Asami wa Al-Kuna
  • Az-Zuhd
  • Ar-Raddu ‘ala Az-Zanadiqah wa Al-Jahmiyah
  • An-Nasikh wa Al-Mansukh
  • Al-Muqaddam wa Al-Mu’akkhar fi Al-Qur’an

Ujian Hidup Imam Ahmad

Ujian terbesar yang menimpa imam Ahmad adalah fitnah yang mengatakan bahwasanya Al-Qur’an adalah makhluk, perkataan itu bersumber dari seorang Yahudi di Yaman yang kemudian diadopsi oleh Lubaid bin Al-A’sham Al-Yahudi yang kemudian menanamkan benihnya di Irak yang merupakan pusat peradaban Islam dan orang muslim pertama yang mengadopsi ucapan tersebut adalah Aban bin Sam’an, kemudian Al-Ja’d bin Dirham (118 H), kemudian Jahm bin Shafwan (128 H), kemudian Bisyr Al-Marisi (218 H) padahal dia tidak berjumpa dengan Jahm.

Kemudian fitnah ini semakin merajalela karena diadopsi oleh Al-Ma’mun Al-Abbasi di mana dia berguru kepada Abu Al-Hudzail Al-‘Allaf Al-Mu’tazili, di majelisnya dekat dengan orang-orang buruk seperti kepala qadli Ahmad bin Abi Du’ad yang memotivasi bid’ah ini di hadapan Al-Ma’mun sampai-sampai Al-Ma’mun menyebarkannya dan mendorong orang-orang mengadopsinya, namun ternyata Al-Ma’mun meninggal tidak lama kemudian.

Kemudian panji bid’ah tersebut dipegang oleh Al-Mu’tashim (228 H) dan melanjutkan fitnah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk di mana imam Ahmad didatangkan ke hadapannya pada 10 terakhir Ramadan tahun 219 H, terjadilah perdebatan antara imam Ahmad dan para dedengkot bid’ah, imam Ahmad dicambuk dan didera sampai pingsan, ketika beliau sadar mereka mengejek dan mencelanya, beliau dipukul sampai sendi tangannya terlepas, imam Ahmad berada dalam kondisi tersebut selama 28 bulan, meskipun demikian imam Ahmad tetap teguh dalam kebenaran, kukuh seperti kukuhnya gunung, enggan untuk mengkhianati agamanya dan mengganti keyakinannya sekalipun dia dihadapkan dengan siksaan dan penjara, dengan keteguhan imam Ahmad Allah menyelamatkan banyak manusia dari keyakinan yang menyimpang. Ketika tiba bulan Dzul Hijjah tahun (220 H) Al-Mu’tashim membebaskannya dan melepas fitnah yang mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk karena dia diprotes oleh orang-orang.

Kemudian fitnah tersebut kembali lagi pada zaman Al-Watsiq (233 H) yang merupakan putra Al-Mu’tashim disebabkan adanya motivasi dari qadli Ahmad bin Abi Du’ad sang dedengkot bid’ah, di mana dia menyuruh khalifah untuk melarang imam Ahmad mengajar, menyampaikan hadits dan berfatwa, imam Ahmad pun berhenti menyampaikan hadits tahun 227 H, beliau bersembunyi dari rumah ke rumah kawan-kawannya, hal itu beliau lakukan sampai Al-Watsiq meninggal pada tahun 232 H.

Setelah Al-Watsiq meninggal Al-Mutawakkil (247 H) menggantikan saudaranya tersebut menjadi khalifah, dengan Al-Mutawakkil itulah Allah menghapus fitnah, Allah menampakkan sunah, hal itu disebarkan ke seluruh penjuru pada tahun 234 H.

Ali bin Al-Madini berkata: “Allah menopang agama ini dengan 2 orang dan tidak ada lagi orang ketiga selain mereka berdua: Abu Bakar Ash-Shiddiq pada masa riddah, dan Ahmad bin Hanbal pada masa mihnah.”[12]Tarikh Baghdad (6/90)

Imam Ahmad Wafat

Imam Ahmad wafat di Baghdad pada waktu duha hari Jumat 12 Rabi’ul Awwal tahun 241 H pada usia 77 tahun, beliau dimakamkan setelah shalat ashar, orang yang bertakziah tidak bisa dihitung jumlahnya saking banyaknya ada yang mengatakan jumlahnya mencapai 1.7 juta pelayat. Hal ini merupakan bukti dari perkataan beliau ke para dedengkot bid’ah: “Antara kami dan kalian adalah hari ketika menjadi jenazah.” Sampai-sampai Abdul Wahhab Al-Warraq berkata: “Kami tidak pernah mendengar ada rombongan pada masa jahiliyah, tidak juga pada masa Islam berkumpul ke satu jenazah yang jumlahnya melebihi berkumpulnya orang-orang ke jenazah Ahmad.”[13]Al-Bidayah wa An-Nihayah (14/424-425) [14] Mudzakkirah Tarikh Al-Fiqh, Umar bin Abdul Aziz Al-Ghudayyan (117-123) [15]Ingin mengetahui lebih banyak? Silakan klik di sini

Referensi

Referensi
1Ma’alim Madzhab Al-Hanbali (333-372)
2Tahdzibul Kamal (1/437 dan seterusnya)
3Manaqib Al-Imam Ahmad (107), Tahdzibul Kamal (1/440)
4Manaqib Al-Imam Ahmad (77)
5Tadzkirah Al-Huffazh (2/16)
6Manaqib Al-Imam Ahmad (78)
7Majmu’ Al-Fatawa (34/114)
8Thabaqat Al-Hanabilah (1/3)
9Majmu’ Al-Fatawa (34/113)
10Al-Madkhal Al-Mufasshal ila Madzhabi Al-Imam Ahmad ibn Hanbal (1/371-373)
11A’lamu Al-Muwaqqi’in ‘an Rabbi Al-Alamin (1/23)
12Tarikh Baghdad (6/90)
13Al-Bidayah wa An-Nihayah (14/424-425)
14 Mudzakkirah Tarikh Al-Fiqh, Umar bin Abdul Aziz Al-Ghudayyan (117-123)
15Ingin mengetahui lebih banyak? Silakan klik di sini

Mohammad Ridwanullah

Founder www.zaad.my.id | Author | Web Developer | Alumni Darul Ihsan Sana Daja & Ma'had Al-Ittihad Al-Islami Camplong. Melanjutkan pendidikan S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Syariah jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh di LIPIA Jakarta.

Postingan Ini Memiliki Satu Komentar

Tinggalkan Balasan