Jangan Berbicara Tanpa Ilmu

  • Reading time:2 Menit
  • 35 View

Jangan Bicara Tanpa Ilmu

Imam Ahmad berkata:

“Aku didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan terbelenggu, lalu aku ditanya ‘Wahai Ahmad, dari mana engkau berkata dalam masalah ini?’ Aku menjawab: ‘Ya Allah, Waki’ bin Al-Jarrah Al-Kufi lah yang menyampaikan hal itu kepadaku.’
Dilepaslah belenggu imam Ahmad lalu didatangkan Waki’ dalam keadaan terbelenggu seraya ditanya ‘Dari mana engkau mengatakan hal ini?’ Waki’ menjawab: ‘Manshur bin Al-Mu’tamir yang mengatakan kepadaku.’
Dilepaslah belenggu Waki’ lalu Manshur didatangkan dalam keadaan terbelenggu dan ditanya: ‘Dari mana engkau mendapatkan ini?’ Manshur menjawab: ‘Ibrahim An-Nakha’i yang mengatakan kepadaku.’
Dilepaslah belenggu Manshur lalu Ibrahim An-Nakha’i didatangkan dalam keadaan terbelenggu seraya ditanya: ‘Dari mana engkau mengatakan hal ini?’ Ibrahim An-Nakha’i menjawab: ‘Al-Aswad dan Yazid yang menyampaikan hal itu kepadaku dari Ibnu Mas’ud’,
Dilepaslah belenggu Ibrahim An-Nakha’i lalu mereka berdua didatangkan dalam keadaan terbelenggu seraya ditanya: ‘Dari mana kalian mengatakan itu?’ Mereka menjawab: ‘Ibnu Mas’ud yang menyampaikan hal itu kepada kami.’
Dilepaslah belenggu mereka berdua lalu Ibnu Mas’ud didatangkan dalam keadaan terbelenggu seraya ditanya: ‘Dari mana engkau mengatakan hal ini?’ Ibnu Mas’ud Menjawab: ‘Nabi-Mu yang menyampaikan kepadaku, dari Jibril, dari Engkau ya Rabb.'”

Ilmu dengan Sanad

Buatlah perantara antara kita dengan ilmu, yaitu naql dan atsar.
Semua yang kita sampaikan akan ditanya dan dimintai pertanggungjawaban kelak.
Di masa tabi’in ketika penduduk Madinah ditanya tentang talak tidak ada yang berani menjawab kecuali Said bin Al-Musayyib.
Lihat! Itu Madinah, penduduknya adalah para tabi’in yang merupakan anak-anak atau murid para sahabat, Madinah yang merupakan pusat peradaban dan ilmu tidak ada yang berani berfatwa kecuali satu orang.
Lalu kita? Baru belajar kemaren sore sudah berani mengatakan ini halal, ini haram. Bagaimana kita akan mempertanggungjawabkan hal itu ketika kita didatangkan dalam keadaan terbelenggu kelak?
Jangan terperdaya dengan ucapan: “Fulan bodoh, Fulan tidak bisa menjawab, Fulan tidak bisa berfatwa, Fulan meralat ucapannya.”
Lebih baik orang memicingkan mata dan memandangmu rendah serta hina dari pada kelak engkau didatangkan di hadapan Allah dengan ditanya “Kenapa engkau mengatakan demikian?”[1]Dari muhadlarah Syaikh Dr. Abdussalam Asy-Syuwai’ir

Referensi

Referensi
1Dari muhadlarah Syaikh Dr. Abdussalam Asy-Syuwai’ir

Mohammad Ridwanullah

Founder www.zaad.my.id | Author | Web Developer | Alumni Darul Ihsan Sana Daja & Ma'had Al-Ittihad Al-Islami Camplong. Melanjutkan pendidikan S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Syariah jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh di LIPIA Jakarta.

Tinggalkan Balasan