Manusia Adalah Saksi Bagi Dirinya Sendiri (Nasihat Menyentuh Hati)

  • Reading time:4 Menit
  • 65 View

Manusia Adalah Saksi Bagi Dirinya Sendiri

Sebagian orang bisa saja memandangmu sebagai orang yang bertakwa, sebagian yang lain bisa saja memandangmu sebagai pendosa, dan sebagian yang lain lagi bisa saja memandangmu seperti ini, seperti ini, dan seperti ini….

Akan tetapi pada kenyataannya, engkaulah yang lebih tahu tentang dirimu sendiri. Satu-satunya rahasia yang tidak diketahui oleh siapa pun selain dirimu adalah rahasia tentang hubunganmu dengan Tuhanmu.

Maka janganlah terperdaya oleh orang-orang yang memujimu, jangan pula merasa resah terhadap orang-orang yang mencelamu; karena fakta mengatakan:

﴿ بَلِ الْإِنسَانُ عَلَىٰ نَفْسِهِ بَصِيرَةٌ ۝ ﴾

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri (lebih tahu tentang dirinya).” (Q.S. Al-Qiyamah: 14)

Salah satu bahaya hidup di antara ketaatan dan kemaksiatan adalah bahwa engkau tidak mengetahui manakah di antara hal itu yang akan menjadi penutup hidupmu. Kerjakanlah ketaatan karena ikhlas bukan sekedar untuk membebaskan dirimu dari kewajiban. Jagalah sunah-sunah untuk mendekatkan diri pada Allah bukan agar terlihat mulia. Demi Allah engkau sendiri yang lebih membutuhkan ketaatan, sedangkan Tuhanmu Yang Maha Suci tidak butuh pada ketaatanmu.

Jangan jadikan cinta kasih manusia sebagai tujuan utamamu; karena hati manusia itu berbolak-balik, bisa jadi hari ini mereka mencintaimu sedangkan esok mereka membencimu. Maka hendaklah tujuan utamamu adalah bagaimana agar Tuhan para manusia mencintaimu; karena sesungguhnya jika Dia telah mencintaimu, Dia akan menjadikan hati para manusia mencintaimu.

Sesuatu yang haram tetaplah haram sekalipun semua orang melakukannya. Jangan pernah melepas prinsip-prinsipmu, biarkan saja mereka; karena kelak engkau juga akan dihisab sendirian. Karenanya berisitiqamahlah sebagaimana engkau diperintah, bukan sebagaimana engkau suka.

Buatlah untuk dirimu sendiri amalan rahasia nan tersembunyi di mana tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah; karena sebagaimana halnya dosa yang dilakukan ketika sunyi sendiri itu membinasakan, demikian juga kebaikan yang dilakukan saat sunyi sendiri itu dapat menyelamatkan.

﴿ لَّقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ ﴾

“Sungguh Allah telah meridai orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Rasulullah) di bawah pohon.” (Q.S. Al-Fath: 18)

Maka jangan sibukkan dirimu dengan tempat-tempat yang indah; karena sesungguhnya konferensi terbesar dalam sejarah terjadi di bawah pohon.

Ya Allah! Sungguh aku menyerahkan urusanku kepadaMu.

Salah seorang ulama berkata:

“Aku berdoa kepada Allah agar mengabulkan apa yang aku butuhkan, dan jika Dia memberiku apa yang aku minta maka aku merasa gembira sekali saja, dan jika Dia tidak memberiku hal itu aku merasa gembira sepuluh kali lipat; karena yang pertama (yang Allah kabulkan) adalah pilihanku sedangkan yang kedua (yang tidak dikabulkan) adalah pilihan Allah Yang Mengetahui segala hal yang gaib.”

Sangat indah terasa ketika sepenuhnya percaya kepada Tuhan segenap makhluk, Allah maha mengetahui sedangkan kalian tidak mengetahui. Itu merupakan jawaban yang memuaskan untuk kita yang bertanya: “Kenapa hal itu terjadi padaku?” (Jawabannya): Karena Allah mengetahui sedangkan kita tidak mengetahui.

Keluarnya sebagian orang dari hidupmu atau masuknya sebagian dari mereka ke dalam hidupmu adalah bentuk kasih sayang dari Tuhanmu, kasih sayang yang tidak dapat kita sadari kecuali seiring berjalannya waktu.

Tahun demi tahun dapat mengubah banyak hal, ia dapat mengubah topografi gunung-gunung, maka bagaimana mungkin ia tidak dapat mengubah kepribadian manusia?

Andai kita mengetahui bagaimana kita tenggelam dalam pahala setelah mendapatkan ujian, niscaya kita tidak akan pernah berharap agar dapat segera lepas dari ujian itu.

Allah tidak mengambil apa pun dari kita kecuali Dia akan memberikan yang lain untuk kita, maka sambutlah takdir dengan mengucapkan “Alhamdulillah.”

Orang-orang shalih terdahulu saling berwasiat dengan tiga kalimat andai ditimbang dengan emas niscaya lebih berharga kalimat-kalimat itu.

Yang pertama: Barang siapa memperbaiki hubungannya dengan Allah niscaya Allah akan memperbaiki hubungannya dengan sesama manusia.

Yang kedua: Barang siapa memperbaiki (menjaga) perbuatannya saat sepi (tidak ada yang melihat) niscaya Allah akan memperbaiki (menjaga) namanya di hadapan banyak orang.

Dan yang ketiga: Barang siapa memperhatikan urusan akhiratnya niscaya Allah akan mencukupkan untuknya urusan dunia dan akhiratnya.

Bentuk kerugian terbesar adalah di mana surga luasnya seluas langit dan bumi akan tetapi tidak ada tempat untukmu di sana.

Manfaatkanlah hidup sebaik-baiknya; karena sesungguhnya ia adalah bekalmu. Semoga Allah selalu mengampuniku serta mengampuni kalian semua.

Ya Allah! Limpahkan shalawat dan salam serta keberkahan kepada baginda nabi Muhammad.


Manusia Adalah Saksi Bagi Dirinya Sendiri

Baca hikmah  dan nasihat yang lainnya di sini.

Mohammad Ridwanullah

Founder www.zaad.my.id | Author | Web Developer | Alumni Darul Ihsan Sana Daja & Ma'had Al-Ittihad Al-Islami Camplong. Melanjutkan pendidikan S1 Fakultas Syariah di LIPIA Jakarta. Melanjutkan pendidikan S2 di Fakultas Syariah jurusan Fiqh dan Ushul Fiqh di LIPIA Jakarta.

Tinggalkan Balasan